Rabu, 22 Juni 2016

Perkenalan


         Langkah demi langkah. Jejak demi jejak kaki, kubiarkan terukir indah diatas padang lumpur, didepan rumahku. Mencoba untuk menggendong tas kecil nan usang untuk kembali belajar di sekolah. Walau angin terus saja memaksaku agar tidak sekolah, aku hanya acuh-tak acuh. Tak disangka-sangka, tetes air hujan, mengikuti perjalananku. Berpayung dedaunan pisang, terus kucoba langkahkan kaki ini, karena jarak rumahku ke sekolah, cukuplah jauh. Jadi, aku hanya bisa berharap agar guru tidak memarahiku saat tiba di gerbang sekolah.
          Bertambah deras, hujan mengguyur tubuhku. Basah kuyup. seragam yang kupakai. Mempercepat langkahan kaki, agar datang bisa tepat waktu. Ternyata, ada sebuah lubang, yang tak kulihat adanya lubang itu. Aku pun terperosok ke dalam lubang itu. “ Aduh.. Gimana ini ? Pasti guru memarahiku. “ Kataku, sambil membersihkan bajuku yang kotor terkena lumpur.
Dengan perasaan takut, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam sekolah, Pak satpam, menemuiku, dan bertanya. “ Ngapain, dek. Mau masuk sekolah ? Sudah jam berapa sekarang ? Sudah baju kotor, lagi. Niat sekolah, enggak ? “ Tanya pak satpam dengan menampakkan wajah marahnya. Aku hanya bisa terdiam, mendengar pertanyaan yang dilontarkan pak satpam. Sejenak kemudian, ada seorang guru menghampiri kami. Namanya pak Bagas.
       “ Ada apa ini pak ? Dan, kenapa bajumu, Dava ? “ Tanya pak Bagas, melirik kami berdua.
        “ Aanu… Pak. Dia mau masuk sekolah, tapi sekarang, sudah jam berapa ? Dan lagi… Bajunya kotor, seperti anak tidak karuan. “ Jawab pak satpam, sambil menunjukku.
        “ Tadi, saya jatuh, pak…. “ Kataku, pada pak Bagas, dengan wajah menunduk
       “ Halah, palingan cuma alasan saja, pak. “ Sambung pak satpam
       “ Enggak, bener kok pak “ Jawabku membantah
       “ Sudah… Dava, kamu silakan masuk ke ruang guru saja, nanti biar bapak kualfikasi penyebabnya, ya “ Kata pak Bagas, sambil mengantarku menuju ke uang guru.
Aku pun masuk ke dalam ruang guru, seperti yang diperintahkan oleh pak Bagas.Aku melihat pak Bagas mengambil sesuatu didalam lemari pribadi. Karena di ruang guru, setiap guru memiliki satu lemari pribadi. Pak Bagas, langsung memberiku baju seragam, dan sebuah jam tangan, yang sudah terlihat kuno
       “ Ini, cepat ganti baju. Dan, supaya kamu tidak telat lagi, ini jam tangan bapak. Disimpan, ya ? “ Kata pak Bagas.
      “ Terimaksih banyak, pak. “ Ucapku
      “ Iya, sama-sama “
      “ Aku dulu, juga sama sepertinya. Terjatuh di lumpur, kotor, tapi tetap semangat untuk sekolah. Mungkin, orang lain akan berpikir lebih baik bolos, daripada masuk tapi telat, dan kotor lagi . Tapi, ia berani untuk bersekolah, apapun yang terjadi. Yah, hadiah kecilku tadi, semoga memotifasi Dava. Dava… Dava, Kau anak yang baik “ Kata hati pak Bagas
                       ****

           Namaku adalah Dava Maulana Wahdah. Seorang anak SD, kelahiran Situbondo, 12 Agustus 1999. Ayahku telah wafat, 3 tahun silam. Kini, aku tinggal didalam gubuk kecil, yang tersusun dari anyaman bambu, bersama ibu, dan seorang adikku, yang bernama Fandi. Setiap kali panas, kami kepanasan. Setiap kali, udara dingin, kami pun kedinginan. Hanyalah selembar selimut tipis yang bisa kami pergunakan untuk memberikan kehangatan. Ketika hujan, pun kami harus menadahinya dengan 5 baskom, karena atap rumah sudah mulai berlubang. Setiap hari, seusai aku sholat Ashar, aku menggembala kambing milik pak Sude, juragan kambing di desaku. Sampai mega merah terlukiskan, diatas langit ciptaan tuhan
          Ibuku hanyalah buruh tani, yang bayarannya tak seberapa. Dengan hasil keringatnya,ia membiayai hidup kedua anaknya.Setiap fajar, ia sudah bersiap diri untuk menuju ke sawah. Inilah yang membuat aku begitu semangat dalam mengejar ketertinggalanku selama belajar.
                         ****

          Aku adalah sang pemimpi, yang ingin mewujudkan impian besarku selama ini, dengan segenggam asa yang kupunya. Sudah banyak, orang yang meledekku. Mungkin, aku seumpama kertas usang, bagi para jutawan. Aku ingin suatu saat dihormati, agar aku tak jual harga diri. Aku yakin, hari esok mimpiku akan nyata. Mewarnai mimpi sang ayah, yang terkubur bersama jasadnya. Agar harga diriku tak diinjak-injak, kaki orang tak bijak.
Aku memang tak sepintar Tito. Teman sekelasku. Ia adalah satu-satunya orang yang punya mobil di sekolah. Ayahnya, seorang pengusaha besar yang sangat dihormati. Aku selalu berusaha, terus berusaha. Menggembala kambing orang, disaat matahari hampir petang, sambil membaca buku bekas yang selalu didapat, dari tetangga, atau menemukan di jalanan. Tak penting berapapun hasilnya. Usahaku, akan berbuah semanis yang ku harapkan, InsyaAllah
       Aku ingin terus berlari, menggapai mimpi yang terus pergi. Menjelajahi ribuan arah jalan, sekalipun aku tersandung batu kehidupan. Karena, semua itu adalah skenario tuhan
                    ****

ESOK HARI DI GARDU GARUDA
Hari ini, adalah hari libur bagi siswa SDN 5 Dawuhan. Hari ini bisa libur, tapi Matahari tak kan pernah libur untuk padamkan cahayanya. Ia akan terus bersinar, menemani ribuan karya anak desa.
Aku, Fandi, dan kedua temanku bernama Zen, dan Husein. Kami selalu melakukan kegiatan rutinitas kami, jika ada waktu luang, di sebuah gardu. Kami menamainya Gardu Garuda, tempat berkumpulnya kita berempat, untuk sekedar mendiskusikan tentang pelajaran di sekolah, saling berbagi ilmu. Dan disini, kami juga menciptakan lemari kecil tempat dikumpulkannya buku-buku bekas bacaan orang-orang berada, untuk kembali bisa dibaca oleh kami. Sekalipun buku bekas, yang penting ilmunya bisa membekas.
“ Dava.. Untuk kali ini, apa yang akan kita lakukan ? “ Tanya Husein

Besok ada lanjutannya